WHAT'S NEW?
Loading...
Showing posts with label Keren. Show all posts
Showing posts with label Keren. Show all posts

Begitu menakjubkan, rumah-rumah pohon yang unik dan keren dengan cara yang tidak terpikirkan oleh saya. Ketika saya masih kecil, itu merupakan hal yang keren bisa berada ditempat yang tinggi di udara melihat pemandangan dari ketinggian, atau membayangkan hal-hal yang terjadi di bawah rumah pohon membuat itu menarik. Mungkin ketika kita ditanah begitu tenang dan aman, namun jauh dari itu semua ketika di rumah pohon.


Saya pikir banyak orang yang ingin membuat rumah pohon. Ada kenyamanan di rumah pohon yang kita semua inginkan. Ketika merasakan udara dingin yang ditimbulkan dari pepohonan sekitar. Sebelum anda mengingikannya, inilah rumah pohon unik dan menakjubkan yang ada di dunia.


Berada di sebuah rumah pohon benar-benar membuat kita merasa seperti  bagian dari alam.

 

Rumah pohon yang indah ini dibangun oleh Tereasa Surratt dan David Hernandez.

 

Keluar dari mimpi - Museum Kiyoharu Shirakab

This one looks like it's out of a dream - it's the Japanese Teahouse by Terunobu Fujimori built for the Kiyoharu Shirakaba Museum

Tidak hanya jauh dari peradaban, tapi akan begitu terasa menyenangkan bila ada di rumah pohon unik ini.

Luar biasa! Rumah Pohon The Mirrorcube. Ini salah satu cara untuk berbaur dengan lingkungan.

 

Menyala dalam keindahan di Rumah Pohon Redwoods.

Rumah pohon Suku Korowai di Papua, kurang dalam gaya tetapi menarik dengan ketinggiannya. Salut!

Pohon tertinggi di Colombia. Meliuk-liuk seperti pohon anggur.

Ini salah satu rumah pohon favorit dari Tennessee disebut The Minister Treehouse. Juara!

(via: reddit.com)

Rumah pohon ini benar-benar menginspirasi saya untuk mulai mencoba merencanakan pembangunan sebuah rumah pohon saya sendiri. Sepertinya tidak terlalu sulit. :)

sumber


Gunung Everest bagaikan 'pahala surga' bagi para pendaki. Ada kebanggaan tak terkira bila bisa menaklukkan gunung  yang juga disebut sebagai Sagarmatha ("Kepala Langit" dalam bahasa Sansekerta).


Seperti yang dikutip dari Apakabardunia.com. Tantangan alam yang akrab dengan dunia lelaki ini juga diminati kaum wanita, dan memang sudah banyak perempuan-perempuan hebat yang berhasil mencapai puncaknya. Namun tahukah kamu siapa wanita pertama yang berhasil mendaki dan menaklukkan Puncak Everest?
 
Sekitar 39 tahun lalu, seorang wanita berkebangsaan Jepang menjadi wanita pertama yang berhasil dan selamat menaklukkan Puncak Everest. Dengan mengambil jalur normal yaitu punggungan tenggara, Junko Tabei mendaki hingga puncak pada tanggal 16 Mei 1975.

Seperti yang dilansir oleh JapanTimes.co.jp, prestasi Junko Tabei ini merupakan simbol perjuangan wanita Jepang untuk mendapatkan kesetaraan dan kebebasan memilih. Pada masa itu,  isu kesetaraan gender memang sedang hangat-hangatnya. Saat itu yang boleh bekerja di luar rumah hanyalah laki-laki sedangkan perempuan harus tinggal di rumah.

"Meskipun wanita sudah bekerja di luar rumah, mereka masih berkewajiban untuk menyajikan teh," ungkap Tabei.

 Tabei mengaku ia terinspirasi oleh Sir Edmund Hillary yang menjadi orang pertama yang menaklukkan Puncak Everest bersama dengan Sherpa Tenzing pada tahun 1953.



Tabei sang inspirator lingkungan
 

Tabei adalah teladan pecinta alam sejati. Ia tak hanya berfokus jadi penakluk puncak gunung tinggi, melainkan juga pemerhati lingkungan. Salah satu hal yang dilakukan sebagai bukti kepeduliannya adalah dengan meneliti masalah sampah di Gunung Everest ketika menempuh studi di Universitas Kyushu.

Hingga kini, wanita kelahiran 22 September 1939 belum berniat pensiun sebagai pendaki. Kamu bisa hitung berapa umurnya sekarang, kan? Ia mengaku sangat menikmati petualangan mendakinya ke gunung-gunung yang unik, walau dua anaknya sudah tumbuh dewasa.

"Tak pernah sedikit pun terbesit di pikiranku untuk berhenti mendaki--dan selamanya tak akan pernah--meskipun aku sudah melihat banyak orang meninggal di gunung dengan mata kepalaku sendiri," ungkapnya.


sumber
Google
Google Cardboard, Headset VR buatan sendiri dari bahan kardus
Tren headset virtual reality (VR) ikut mengemuka bersama dengan kemunculan wearable device. Dalam hal ini, Facebook memiliki Oculus VR yang dibeli seharga miliaran dollar AS beberapa waktu lalu. Sementara Google menawarkan alternatif lain yang lebih “sederhana”:  headset VR dari kardus yang bisa dibuat sendiri.

Ide yang sepintas terdengar nyeleneh ini benar-benar diperkenalkan ke hadirin pada konferensi Google I/O di San Francisco, Rabu (25/6/2014), seperti dilaporkan oleh Cnet. Google membuat aplikasi bernama Cardboard yang memungkinkan pengguna ponsel Android mengubah perangkatnya menjadi headset VR.

Namun, “Headset VR” pendamping Cardboard tidak dijual oleh Google, tetapi mesti dibikin sendiri (DIY, Do-it-Yourself) dari bahan kardus. Peminat bisa melihat seperti apa bahan-bahan yang diperlukan berikut gambar rancangan dan SDK dari laman Cardboard Google. Raksasa internet itu juga menyisipkan tautan ke situs belanja online yang menyediakan bahan terkait.
Google
Ponsel Android terpasang pada headset VR Google Cardboard
Gagasan di balik Cardboard adalah membuat headset VR murah meriah yang bisa didapatkan oleh siapa pun. Begitu headset kardus selesai dibuat, pengguna tinggal memasang smartphone Android ke dalamnya dan mulai menikmati tampilan 3D.

“Virtual Reality telah menunjukkan kemajuan yang menjanjikan selama beberapa tahun terakhir. Namun, pengembangannya memerlukan perangkat keras khusus yang mahal. Untuk membuat VR lebih meluas, Google bereksperimen memakai smartphone sebagai sarana VR,” tulis Google dalam situs Cardboard.

Lantas, berapa biaya yang diperlukan untuk membuat headset kardus Google? “Kacamata 3D ini” hanya butuh sekitar 10 dollar AS untuk lensa, magnet seharga 7 dollar AS, serta beberapa bahan lain yang sama-sama tidak mahal. 

Google menyediakan aplikasi Cardboard di toko Google Play untuk mendemonstrasikan berbagai skenario yang dimungkinkan oleh headset VR buatan sendiri itu. Sejumlah demonstrasi yang tersedia mencakup flyby di Google Earth, Photo Sphere, dan YouTube.
Sumber: CNET 
Editor: Wicak Hidayat
sumber: kompas.com


Awal Januari 2014 raksasa teknologi Google meluncurkan sebuah inovasi teknologi barunya, yaitu sebuah kacamata yang disebut Google Glass. Tentu bukan hanya sebuah kacamata biasa karena untuk mendapatkannya Anda harus rela kehilangan uang sebesar US 1.500 atau sekitar Rp 17 jutaan. Selain itu, untuk bisa memilikinya kita harus memenuhi sejumlah persyaratan, seperti mengisi alasan mengapa pembeli ingin memiliki benda tersebut. Selain itu, Google Glass hanya bisa dibeli secara online.


Google Glass bukan kaca mata gaya biasa karena di dalamnya tertanam komponen, chip dan konektifitas WiFi. Dan inilah fungsi Google Glass: 

Memotret dan merekam video.  Jika kita sedang jalan-jalan di mall dan bertemu dengan seseorang yang mempesona, kita dapat memotret atau mengambil rekaman videonya tanpa sepengetahuannya. Tanpa perlu menggunakan kamera ponsel atau DSLR. Cukup mengarahkan padangan mata yang telah menggunakan Google Glas pada obyek kemudian ucapkan ‘take a pic’ maka otomatis kaca mata ajaib itu akan melakukan tugas mengambil gambar obyek. 

Streaming video. Tak masalah jika teman atau keluarga ingin ikut menonton konser artis idola sementara kita Cuma punya satu tiket di tangan. Cukup dengan Google Glass kita dapat melakukan streaming video sehingga bisa ikut dinikmati oleh keluarga dan teman di rumah. 

Road Guide. Ini adalah kabar baik bagi yang menyukai traveling. Jika kita sedang menjelajah satu daerah yang baru sama sekali Google Glass dapat membantu kita memandu arah yang benar dengan berdasarkan pada Google Maps. 

Voice to SMS. Google Glass dapat merekam suara pemakainya untuk kemudian bisa dikirim kepada rekan dalam bentuk SMS. 

Penterjemah. Google Glass juga bisa membantu pemakainya untuk menterjemahkan bahasa asing ke dalam bahasa yang kita kenal dengan menggunakan voice. (ref: Tabloid Sinyal/ill: Mashable)


sumber

 

National Batik Day 2014


Children's Day 2013


Children's Day 2014


Father's Day 2014


Indonesia Elections 2014


Indonesia Independence Day 2009


Indonesia Independence Day 2010

Indonesia Independence Day 2011


Indonesia Independence Day 2012


Indonesia Independence Day 2013


Indonesia Independence Day 2014




It is the so called Cianjuran, Sundanese Recital Cianjuran, or just Sundanese recital. It is a Sundanese opera accompanied by kacapi (Sundanese harp), suling (flute), and rebab (traditional Sundanese minor cello). Cianjuran recital has three categories: - according to song character: Papantunan (poetry) Jejemplangan Panambih (closing) – according to area: Cianjuran, Ciawian, Cijawiran etc. (Padjadjaran University)